LABUAN BAJO, BANERATV.COM – Penanganan kasus kematian tragis seorang Lady Companion (LC) bernama Luna alias Jurmaya di Mawar Jingga (MJ) Pub & Karaoke pada 25 Desember 2025 lalu, kini meninggalkan tanda tanya besar. Di tengah proses penyelidikan yang masih berjalan, empat saksi kunci termasuk teman sekamar korban diketahui telah meninggalkan Labuan Bajo menuju Jakarta.
Langkah ini diduga melibatkan peran aktif manajemen Mawar Jingga dengan seizin pihak kepolisian. Publik kini mencium adanya upaya sistematis untuk menjauhkan saksi dari jangkauan informasi dan pengawasan publik.
“Tembok” Informasi dan Instruksi Bungkam
Salah satu saksi kunci, Lavi, saat dihubungi awak media pada Sabtu (24/1/2026), mengakui dirinya mendapat instruksi khusus dari penyidik kepolisian untuk tidak memberikan keterangan apa pun kepada pers.
“Kata polisi kalau wartawan nanya langsung ke polisi saja, jangan dijawab,” ungkap Lavi dalam komunikasi tersebut.
Sikap tertutup ini dinilai janggal. Polisi yang seharusnya bekerja transparan justru terkesan membangun “tembok informasi”. Bahkan, Lavi mengaku tidak mengetahui nama penyidik yang memeriksanya, meski proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP) berlangsung dari siang hingga larut malam sebelum ia diperintahkan meninggalkan Labuan Bajo.
Manajemen Fasilitasi Kepulangan Saksi
Dugaan keterlibatan manajemen Mawar Jingga dalam menjauhkan saksi dari lokasi kejadian semakin menguat. Lavi mengakui bahwa tiket kepulangannya ke Jakarta dibiayai sepenuhnya oleh bos tempatnya bekerja.
Proses “pelarian” saksi dengan alasan depresi ini disebut-sebut dikoordinasikan oleh manajer MJ, Heri Purwanto alias Mas Pur, melalui seorang mami bernama Ayumi, yang kemudian meneruskan izin tersebut ke pihak kepolisian Manggarai Barat.
“Aku telepon ke bos. Bos sampaikan ke Ayumi, lalu Ayumi yang minta izin ke polisi. Katanya boleh,” jelas Lavi.
Jejak Oknum Perwira dan Pengusaha
Isu yang paling menyengat dalam kasus ini adalah dugaan keterlibatan dua oknum anggota Brimob Manggarai Barat. Informasi yang dihimpun menyebutkan identitas “Bang Dul” mengarah pada seorang oknum perwira, yang saat kejadian ditemani rekannya berinisial J.
Dugaan keterlibatan aparat diperkuat oleh pengakuan Ari, seorang pengusaha porang di Nggorang. Ari, yang sebelumnya mengakui memiliki hubungan spesial dengan almarhumah hingga korban hamil, sempat mencari perlindungan kepada oknum polisi sesaat setelah kasus ini viral.
Kejanggalan di Lapangan
Pada Sabtu (17/1/2026), awak media Baneratv.com sempat menyambangi MJ Pub & Karaoke. Namun, Mas Pur enggan menemui media dengan alasan sedang bersama keluarga. Melalui sambungan telepon, ia justru memberikan jawaban normatif terkait keberadaan saksi-saksi lain seperti Ayumi, Alexa, dan Gladis.
“Dari kemarin nomor mereka tidak aktif. Saya tidak tahu kabar mereka dan masih mencari keberadaannya,” dalih Mas Pur, kontradiktif dengan keterangan saksi yang menyebut kepulangan mereka difasilitasi manajemen.
Narasi “Ikhlas” Sebagai Senjata?
Kini muncul narasi bahwa pihak keluarga telah mengikhlaskan kematian korban. Namun, publik menilai keikhlasan keluarga tidak seharusnya menghapus unsur pidana jika ditemukan kejanggalan. Narasi ini diduga sengaja didorong agar penyelidikan dihentikan, terutama karena menyentuh nama-nama besar di Korps Bhayangkara.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Polres Manggarai Barat belum memberikan klarifikasi resmi. Kasubsi PIDM Humas Polres Mabar, Pak Frengky, yang dihubungi berkali-kali melalui pesan WhatsApp maupun telepon, belum memberikan jawaban pasti terkait poin-poin pertanyaan yang diajukan redaksi BaneraTV.com.
Pertanyaan untuk Penegak Hukum
Publik mempertanyakan mengapa saksi kunci justru dibiarkan pergi ke luar daerah saat kasus ini masih berjalan, padahal keterangannya sangat dibutuhkan. Selain itu, kejelasan mengenai status hukum dua oknum Brimob yang diduga terlibat juga harus segera diungkap agar tidak menjadi tanda tanya besar. Jangan sampai ada kesan bahwa kasus ini sengaja ditutup-tutupi melalui kerja sama tertutup antara pihak manajemen dan penyidik. Keadilan harus dibuka lebar, bukan malah dibatasi satu pintu.
Masyarakat kini mendesak Kapolres Manggarai Barat dan Dansat Brimob untuk transparan. Hukum tidak boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas, apalagi jika menyangkut nyawa seseorang.




Penulis : Ronald J
Editor : Redaksi Baneratv.com






