LABUAN BAJO, BANERATV.COM — Ketegangan memuncak di Stadion Marilonga, Ende, saat laga pamungkas penyisihan Grup F El Tari Memorial Cup (ETMC) XXXIV 2025 mempertemukan Persamba Manggarai Barat melawan Bintang Timur Atambua (BTA), Jumat (21/11) malam. Pertandingan yang berujung kemenangan 3-1 untuk Persamba ini diwarnai insiden kartu merah terhadap Manager Persamba, Yuvens Harapan Arjon, yang akrab disapa Upeng, akibat protes keras terhadap keputusan wasit.
Tensi pertandingan sudah terasa tinggi sejak peluit awal ditiup.
Situasi kian memanas setelah serangkaian keputusan wasit utama, Dony P. Goa, dinilai kontroversial dan merugikan skuad Laskar Komodo. Puncak insiden terjadi pada menit ke-10 babak pertama. Dari bench tim, Manager Upeng melayangkan protes keras dan berkelanjutan. Protes ini awalnya berujung pada kartu kuning, namun karena ketidakpuasan dan suasana yang memanas, protes tersebut berlanjut hingga memicu adu mulut dan aksi dorong minor dengan beberapa official serta panitia pertandingan. Aparat kepolisian harus turun tangan untuk meredakan kericuhan. Dalam kondisi tersebut, wasit Dony P. Goa mengambil keputusan tegas, mencabut kartu merah untuk sang manajer, memaksa Upeng meninggalkan area teknis dan melanjutkan pertandingan dari tribun penonton.
Usai pertandingan, Upeng memberikan klarifikasi terkait insiden yang membuatnya harus terusir dari bangku cadangan. Ia mengakui protes yang berlebihan, namun menegaskan adanya alasan kuat di baliknya.
Keputusan kartu merah memang karena protes berlebihan, tapi ada alasannya. Di awal babak pertama, pemain BTA menyiku pemain kami sampai kena ulu hati, wasit hanya beri pelanggaran tanpa kartu. Tidak lama, pemain yang sama menyiku lagi pemain kami sampai harus dapat pertolongan medis dan pakai oksigen, tetap tidak diberi kartu,” jelas Upeng, saat dihubungi dari Labuan Bajo, Minggu (23/11).
Upeng menjelaskan bahwa protesnya diarahkan kepada wasit keempat karena ia merasa keamanan dan keselamatan pemainnya tidak dilindungi oleh perangkat pertandingan.
Kalau ada apa-apa dengan pemain saya bagaimana? Saya menjaga marwah Manggarai Barat. Saya dapat kartu merah pun tidak masalah daripada anak-anak saya di lapangan tidak dapat keadilan, tegasnya.
Menatap fase gugur ETMC XXXIV Ende 2025, Upeng berharap kejadian serupa tidak terulang. Ia secara terbuka meminta Panitia Pelaksana untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja wasit.
Saya minta wasit dievaluasi. Jangan ada tim yang dirugikan lagi di 16 besar. Dan kalau bisa, masuk 8 besar pakai wasit dari luar, bahkan lebih bagus lagi kalau wasit Liga 1,” harapnya.
Terlepas dari drama di pinggir lapangan, Persamba berhasil mengamankan kemenangan 3-1. Laskar Komodo sempat unggul lebih dulu lewat gol jarak jauh Angga Asnandi pada menit ke-40, namun BTA membalas cepat lewat Zefri S. Poring. Pada babak kedua, permainan semakin keras dan Persamba kembali memimpin melalui tendangan Frans di menit ke-71, sebelum Angga Asnandi mengunci kemenangan dengan gol keduanya di menit ke-83. Hasil ini memastikan Persamba menyapu bersih tiga laga Grup F dan lolos ke babak 16 besar dengan rekor sempurna, menjadikan mereka salah satu tim yang paling diperhitungkan di turnamen tersebut.
Insiden kartu merah ini menjadi catatan penting bagi panitia untuk memperkuat kualitas kepemimpinan wasit di fase-fase berikutnya.




Penulis : Redaksi Baneratv
Editor : Redaksi Baneratv







