BANERATV.COM – Keterbatasan anggaran tak menyurutkan langkah Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Kabupaten Manggarai Barat untuk tetap hadir di tengah masyarakat. Melalui pembinaan, monitoring, dan pendistribusian program strategis hingga ke pelosok desa, dinas ini berkomitmen mencetak keluarga sehat dan berkualitas.
Kepala Dinas P2KB Manggarai Barat, Rafael Guntur, menegaskan bahwa kunci dari setiap langkah adalah kolaborasi dengan masyarakat dan kader desa.
“Dengan biaya terbatas, kami tetap berusaha hadir di desa. Kami harus membangun kolaborasi dan memastikan masyarakat merasa bersama-sama berjuang,” ujar Rafael.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rafael rutin turun langsung ke desa-desa memberikan motivasi dan pembinaan kepada para kader. Pasalnya, kader menjadi ujung tombak pelaksanaan program KB dan peningkatan kualitas keluarga.
Setiap desa memiliki dua jenis kader: PPKBD (Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) dan Tim Pendamping Keluarga (TPK), yang mendampingi ibu hamil, ibu menyusui, serta wanita usia subur. Semua data hasil pendampingan kemudian terintegrasi ke aplikasi LC Mail.
Program Bergizi Gratis Sentuh Balita dan Ibu Hamil
Selain fokus pada pengendalian penduduk, Dinas P2KB juga terlibat aktif dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Saat ini, tiga dapur gizi telah beroperasi di Batu Cermin, Golo Koe, dan PPG Mata-Lamtoro.
Di dapur Batu Cermin saja, tercatat 100 sasaran penerima manfaat: 50 balita, 31 ibu hamil, dan 19 ibu menyusui.
“Baru sekitar 10% masyarakat yang bisa dilayani. Kami berharap program ini bisa diperluas ke seluruh kecamatan. Mekanismenya, makanan bergizi disiapkan kader lalu disalurkan melalui Posyandu atau langsung ke rumah warga,” jelas Rafael.
Kesadaran Masyarakat Masih Rendah
Meski program berjalan, tantangan di lapangan cukup besar. Rendahnya kesadaran masyarakat untuk rutin memeriksakan kehamilan dan menimbang anak di Posyandu masih menjadi masalah utama.
“Banyak orang tua yang menitipkan anak saat Posyandu, sehingga informasi perkembangan gizi tidak tersampaikan langsung. Padahal, kualitas anak ditentukan sejak dalam kandungan,” tegas Rafael.
Alat Kontrasepsi Hanya untuk Pasangan Sah
Rafael juga menegaskan bahwa distribusi alat kontrasepsi (Alkon) oleh P2KB hanya diberikan kepada pasangan sah yang terdata di sistem.
“Alkon seperti kondom, IUD, KB suntik, dan pil kami distribusikan sesuai permintaan resmi keluarga. Beda dengan kondom yang dijual bebas di pasaran yang tujuannya lain,” katanya.
Fokus: Keluarga Berkualitas, Bukan Sekadar Jumlah
Lebih jauh, Rafael menekankan bahwa tujuan program P2KB bukan hanya mengendalikan jumlah penduduk, melainkan meningkatkan kualitas keluarga. Usia ideal bagi perempuan untuk melahirkan adalah 20–35 tahun, dengan jarak kelahiran yang sehat.
“Jumlah anak bukan masalah, yang penting kualitasnya. Kalau orang tua tidak siap, anak sulit diasuh dengan baik. Harapan kami, setiap anak yang lahir sehat dan berkualitas,” tutup Rafael.







