Oleh: Ladies Jeharum
Opini, BANERATV.COM – Setiap 28 Oktober, kita merayakan Hari Sumpah Pemuda. Ini bukan sekadar acara mengenang sejarah, tapi momen penting untuk membuktikan bahwa semangat persatuan untuk satu Tanah Air, satu Bangsa, dan satu Bahasa itu masih hidup.
Bagi pemuda-pemudi Manggarai Barat (Mabar) saat ini, semangat itu harus diterjemahkan ke dalam tantangan mendasar zaman sekarang: kemandirian ekonomi daerah melalui sektor pangan.
Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo, sudah menjadi primadona pariwisata nasional, bahkan gerbang dunia ke NTT.
Kita patut bangga! Namun, di balik gemerlap pariwisata, ada satu masalah besar yang diam-diam menggerogoti kemandirian daerah: ketergantungan pasokan pangan dari luar.
Hasil penelusuran menunjukkan fakta mengejutkan: banyak dapur, termasuk jaringan kuliner Makanan Bergizi (MBG) di Labuan Bajo, justru mendatangkan bahan baku utama. Buah-buahan seperti semangka, jeruk, pisang, dan sayuran seperti wortel didatangkan dari daerah lain—Makassar, Bali, Bima—dalam skala besar, bahkan mencapai kontainer.
Seperti yang diceritakan Bapak Kanisius Jehabut, fakta ini nyata. Pertanyaannya, kenapa tanah Mabar yang subur malah “puasa” hasil sendiri untuk memenuhi kebutuhan dapurnya? Ini bukan sekadar masalah sayur atau buah, tapi inti dari kemandirian ekonomi.
Bayangkan: Uang dari sektor pariwisata dan kuliner MBG yang seharusnya berputar di Mabar untuk menyejahterakan masyarakat lokal, justru mengalir deras ke daerah-daerah pemasok luar! Padahal, potensi pertanian lokal kita sangat besar untuk digarap. Di sinilah peran krusial pemuda Mabar.
Dengan semangat, tenaga, dan ide kreatif yang mereka miliki, potensi ini bisa diolah, mengubah pemuda dari penonton kemajuan menjadi pemain utama.
Pemerintah daerah harus melihat ini sebagai peluang emas, menjadikan program penguatan pertanian sebagai agenda utama yang melibatkan pemuda sebagai aktor inti. Ini bisa diwujudkan melalui: penyediaan lahan produktif dan akses modal yang mudah; pemberian pelatihan teknis dan ilmu bertani modern; serta memastikan pemasaran hasil panen langsung terhubung dengan pasar pariwisata dan dapur-dapur MBG.
Dengan langkah nyata ini, roda ekonomi Mabar akan digerakkan dari sektor pertanian oleh tangan-tangan pemuda sendiri. Pemuda Mabar, mari berani “turun ke tanah”! Jadilah petani yang tangguh, inovatif, dan berintegritas. Jangan malu bertani. Pertanian adalah sumber martabat dan benteng kemandirian daerah.
Semangat Sumpah Pemuda adalah keberanian untuk berdiri di kaki sendiri, terutama dalam hal pangan dan ekonomi. Mari kita jadikan Hari Sumpah Pemuda ini sebagai momentum untuk bertanya pada diri sendiri: Sudahkah kita bersatu dan berdaya dengan mengoptimalkan potensi tanah sendiri? Apakah kita siap menjadikan sektor pertanian sebagai penopang ekonomi di tengah hiruk-pikuk pariwisata global?
Semoga api semangat pemuda 1928 kembali menyala di Manggarai Barat hari ini. Bukan dengan pidato yang panjang, tapi dengan tindakan nyata di ladang, di kebun, dan di bumi Mabar yang subur.
Selamat Hari Sumpah Pemuda!
Bersatu, Berdaya, dan Bertani untuk Manggarai Barat Gemilang!








