Menyusuri Rumah ODGJ di Welak, Camat Heribertus Manggas: Mari Hilangkan Stigma dan Berbagi dengan Tulus

- Redaksi

Rabu, 5 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUAN BAJO | BANERATV.COM – Di balik kesibukannya sebagai Camat Welak, Heribertus Manggas memilih turun langsung mengunjungi rumah-rumah warga yang hidup dengan gangguan jiwa di berbagai desa. Selama kurang lebih empat bulan terakhir, ia mendatangi satu per satu pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), memberikan pendampingan, bantuan kebutuhan pokok, sekaligus membangun komunikasi dengan keluarga mereka.

Dalam wawancara khusus bersama Baneratv.com di Labuan Bajo, Selasa (4/8/2026), Heribertus menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukanlah program seremonial, melainkan lahir dari kepedulian pribadi terhadap kelompok masyarakat yang selama ini masih rentan mengalami stigma dan diskriminasi.

Ini saya lakukan sudah kurang lebih empat bulan yang lalu. Saya jalankan ini demi kepedulian hati dan betul-betul panggilan. Saya berpikir bahwa kaum rentan ini juga butuh perhatian kita. Kebaikan yang kita berikan mungkin tidak seberapa, tetapi pendampingan adalah hal yang paling penting mereka terima, ujar Heribertus.

Selama empat bulan melakukan kunjungan, Heribertus telah mendatangi sedikitnya 16 ODGJ yang tersebar di sejumlah desa di Kecamatan Welak.

Menurutnya, kondisi pasien yang ditemui sangat beragam.

Dari seluruh desa yang saya sudah lakukan kunjungan, ada 16 ODGJ yang saya jumpai. Dari 16 ini berbagai tingkatan fase sakitnya, ada yang agak berat, ada yang ringan, tetapi semuanya tetap membutuhkan penanganan secara berkelanjutan, katanya.

Di lapangan, Heribertus juga menemukan persoalan serius terkait keberlanjutan pengobatan.

Memang benar. Dari 16 yang saya jumpai itu ada kurang lebih enam orang yang putus pengobatan. Ada juga yang sama sekali belum diberikan pengobatan karena mungkin keluarganya belum melaporkan kepada teman-teman puskesmas, khususnya pengelola ODGJ, ungkapnya.

Sebelum melakukan kunjungan, Heribertus mengaku selalu membangun komunikasi dengan keluarga pasien maupun pemerintah desa agar kehadirannya benar-benar memberi manfaat.

Saya pasti mengawali dengan koordinasi bersama keluarga. Ada juga keluarga maupun teman-teman pemerintah desa yang menghubungi saya untuk melaksanakan kunjungan. Dari situ saya mengetahui apa yang harus saya berikan kepada mereka. Walaupun bantuan yang saya bawa kecil, mereka menerimanya dengan baik dan menyambutnya secara sangat positif, jelasnya.

Selain memberikan motivasi, Heribertus juga rutin membawa bantuan berupa sembako, telur dan kebutuhan pokok lainnya. Ia menegaskan seluruh bantuan tersebut berasal dari kantong pribadinya bersama keluarga.

Seperti yang saya sampaikan di awal, pemberian ini memang tidak seberapa kalau dinilai dengan uang. Tetapi semuanya memiliki ketulusan. Bantuan ini berasal dari pribadi saya bersama keluarga dan mendapat restu dari istri saya. Kalau dinominalkan mungkin tidak seberapa, tetapi kepedulian itulah yang paling penting, tuturnya.

Dari sisi usia, pasien yang dikunjungi didominasi remaja hingga lanjut usia.

Usianya mulai di atas 15 tahun sampai ada yang berusia 60-an tahun. Bahkan yang saya kunjungi di Desa Kahua ada tiga orang, sebagian sudah usia remaja dan ada yang berusia 54 tahun dengan status masih bujang, katanya.

Salah satu temuan yang paling menyita perhatian Heribertus adalah masih adanya pasien yang menjalani pemasungan di Desa Pong Lelak.

Ia mengaku pasien tersebut secara langsung meminta agar dilepaskan dari pasungan.

Ketika saya jumpai, beliau meminta untuk dilepas pasung. Tetapi keluarga masih belum siap karena trauma. Beliau sudah dipasung yang kedua kalinya. Saat pasung pertama dilepas, beliau kembali melakukan hal-hal di luar kendali sehingga keluarga memutuskan untuk memasung kembali sementara waktu,  jelasnya.

Persoalan tersebut, lanjut Heribertus, kini sedang dikoordinasikan bersama Dinas Sosial.

Ini menjadi konsen saya dalam beberapa hari ke depan. Saya sudah berdiskusi dengan Dinas Sosial agar pasien yang nantinya dilepas pasung bisa diarahkan ke panti rehabilitasi sehingga mendapatkan penanganan yang lebih baik, ujarnya.

Selama melakukan pendampingan, tantangan terbesar yang ia temukan adalah memastikan pasien tetap disiplin menjalani pengobatan.

Hal yang paling berat memang soal pengobatan. Ada yang putus pengobatan. Padahal kalau pengobatannya tidak terputus, kita bisa mengevaluasi perkembangan mereka dengan lebih baik. Saya juga banyak berdiskusi dengan keluarga pasien dan ternyata yang paling berat adalah mengatur jadwal pemberian obat, katanya.

Meski demikian, Heribertus mengaku memperoleh banyak pengalaman berharga dari setiap kunjungan yang dilakukan.

Yang paling berkesan bagi saya adalah keluarga di desa-desa menyambut saya dengan sangat baik dan akrab. Semua ODGJ yang saya jumpai, ketika saya peluk dan saya ajak berbicara, mereka merespons dengan baik, ungkapnya.

Di akhir wawancara, Heribertus mengajak seluruh masyarakat Kecamatan Welak untuk mengubah cara pandang terhadap penyandang gangguan jiwa.

Menurutnya, mereka tetap memiliki hak yang sama untuk memperoleh perhatian, kasih sayang, dan pelayanan kesehatan.

Mari kita pelan-pelan menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap kaum rentan ini. Mereka juga manusia biasa seperti kita dan membutuhkan perhatian. Yang paling urgen saat ini adalah melakukan screening sejak awal agar kita bisa mengetahui kondisi kesehatan mental seseorang sedini mungkin, ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus membangun budaya saling peduli dan berbagi kepada sesama.

Untuk seluruh masyarakat Kecamatan Welak, mari kita saling peduli, mari kita berbagi kasih. Jangan dinilai besar kecilnya bantuan yang diberikan, tetapi berikanlah dengan hati yang tulus, pungkas Heribertus Manggas.

Penulis : Ronald J

Editor : Redaksi Baneratv.com

Berita Terkait

Kepala Desa Watu Umpu Apresiasi Kepedulian Camat Welak terhadap ODGJ, Perkuat Sinergi hingga Dorong Pengembangan BUMDes
Bentrok di Lengkong Warang, Praktisi Hukum: Pembiaran Pemda Berpotensi Melahirkan Konflik Baru
Konflik Lengkong Warang Memanas, Polisi Dorong Jalur Hukum, Warga Adat Mbehal Pertanyakan Penanganan Laporan yang Mandek
Kasus Naik Sidik, Emiliana Helni Temui Kasat Reskrim; Kuasa Hukum Pelapor Desak Penetapan Tersangka
Emiliana Helni Hadiri Panggilan Penyidik Polres Manggarai Barat
Teratai DeRie Tampil Perkasa di Idul Adha Cup Soknar, SMK Muhammadiyah Golo Mori Takluk Dua Set Langsung
Mario Pranda Ingatkan Pemerintah Pusat Jangan Limpahkan Beban Lahan KDMP ke Desa, Potensi Konflik Harus Diantisipasi
PMBB Manggarai Barat Sampaikan Duka atas Meninggalnya Dua Wisatawan Austria di Cunca Wulang
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 12:54

Menyusuri Rumah ODGJ di Welak, Camat Heribertus Manggas: Mari Hilangkan Stigma dan Berbagi dengan Tulus

Rabu, 5 Agustus 2026 - 12:18

Kepala Desa Watu Umpu Apresiasi Kepedulian Camat Welak terhadap ODGJ, Perkuat Sinergi hingga Dorong Pengembangan BUMDes

Jumat, 31 Juli 2026 - 03:16

Bentrok di Lengkong Warang, Praktisi Hukum: Pembiaran Pemda Berpotensi Melahirkan Konflik Baru

Sabtu, 20 Juni 2026 - 01:23

Kasus Naik Sidik, Emiliana Helni Temui Kasat Reskrim; Kuasa Hukum Pelapor Desak Penetapan Tersangka

Jumat, 19 Juni 2026 - 04:36

Emiliana Helni Hadiri Panggilan Penyidik Polres Manggarai Barat

Berita Terbaru