LABUAN BAJO, BANERATV.COM – Polemik antara Santi Mawarni, seorang single mother, dengan Fransiska Linda istri anggota polisi Cristian Waldi Budiman, berawal dari persoalan utang, namun berkembang menjadi konflik terbuka di ruang publik, termasuk dugaan pencemaran nama baik di media sosial.
Pada 18 April 2026 pukul 09.38 WITA, Santi Mawarni pertama kali menghubungi redaksi Baneratv.com melalui pesan Facebook dengan memperkenalkan dirinya:
“Pagi kk. Kk neka rabo sebelumnya, Saya orang Terang tapi sudah lama berdomisili di Labuan Bajo.”
Dalam komunikasi tersebut, Santi mengklaim bahwa dirinya telah melunasi utang kepada pihak Emiliana Helni, dan kepada istri oknum polisi tersebut
“Saya sudah bayar lunas utangnya ibu Emiliana Helni, kemudian istrinya Pak Waldi akun solidaritas. Tapi bukti masih sama saya. Selama ini saya mau buat laporan tapi selalu ada halangan. Ini saya lapor bukan soal utang lagi kaka, soal pencemaran nama baik. Dia sudah posting muka saya di FB dengan kata-kata ‘jual saja anak haram untuk bayar utang kami’. Dan mungkin kau terlahir dari seorang binatang. Sadis kan.”
Tak hanya itu, Santi juga mengungkapkan niatnya untuk menempuh jalur adat:
“Kk kirim nomor WA-nya ite, dan saya rencananya minta denda secara adat kaka. Karena itu hari mereka omong di Propam, kalau saya sudah bayar lunas mereka minta maaf di media sosial, ini sama sekali tidak ada.”
Setelah nomor redaksi diberikan, komunikasi berlanjut melalui WhatsApp. Santi mengirimkan sejumlah bukti berupa tangkapan layar (screenshot) postingan akun yang disebutnya berisi caci maki, perundungan, hingga penyebutan dirinya dengan kata-kata yang merendahkan, termasuk rekaman suara (voice note) berisi hinaan.
Dalam salah satu pesannya, Santi meluapkan emosinya:
“Harus kasih pelajaran kk, manusia anjing ini.”
Ia juga menegaskan bahwa persoalan utang yang dipermasalahkan tidak sebanding dengan perlakuan yang diterimanya:
“Kayak saya utang ratusan juta dan saya kabur dari Labuan Bajo. Utang 2 juta dan dibayar hampir 6 juta lebih. Tapi bahasanya mereka bukan lagi seorang pegawai dan polisi yang melindungi masyarakat.”
Santi turut menceritakan dampak psikologis yang dialami keluarganya:
“Iyo kaka, saya punya mama sampai keluar air mata pas saya kasih tunjuk.”
Beberapa hari kemudian, redaksi baneratv.com mengirimkan sebuah tautan berita berjudul “Dituduh Membungakan Uang, Christian Waldy Budiman Angkat Bicara dan Bantah Semua Tudingan.”Menanggapi itu, Santi meragukan kredibilitas media tersebut:
“Media mana ini? Tipu-tipu semua beritanya. Semuanya tidak benar.”
Penolakan terhadap upaya damai juga disampaikan melalui pesan suara:
“Kaka, mereka ini berusaha menghubungi saya lewat teman. Mereka tidak berani telepon langsung saya untuk ketemu langsung dan baku damai. Saya tidak terima kaka, saya tidak mau. Saya mau damai tapi mereka harus ketemu dengan saya punya keluarga. Saya mau minta denda dengan mereka. Saya tidak mau mereka suruh saya klarifikasi di Facebook dan bilang masalah sudah selesai. Saya mau mereka minta maaf secara adat dengan saya dan juga dengan keluarga saya.”
Namun pada 26 April 2026, Santi kembali mengirim pesan yang mengindikasikan adanya tekanan:
“Kaka selamat pagi. Karena ini berita dan laporannya saya, kemarin pasti sudah tahu oleh Kapolres. Dan itu ibu sendiri yang telepon. Tidak apa-apa juga dipecat dari kerja. Intinya mereka di sini, saya harus klarifikasi di media sosial bahwa masalahnya sudah selesai. Saya tidak mau kk, dan mereka juga tidak mau urus secara keluarga.”
Berbalik Arah: Dari Menolak Damai, Menjadi Sepakat dan Terima Uang
Perkembangan mengejutkan terjadi sehari kemudian. Pada 27 April 2026, Santi mengonfirmasi bahwa persoalan tersebut telah diselesaikan secara damai. Ia juga mengakui menerima sejumlah uang dari Cristian Waldi Budiman dan Fransiska Linda namun hingga sekarang tidak menyampaikan nominalnya.
Padahal sebelumnya, Santi secara tegas menyatakan menolak perdamaian, bersikeras menempuh jalur hukum, serta menginginkan penyelesaian melalui mekanisme adat dengan melibatkan keluarganya dan dilakukan di rumahnya.
Fakta di lapangan justru berbeda. Proses damai dilakukan tanpa melibatkan keluarga, dan berlangsung di sebuah restoran di kawasan Wae Mata.
Perubahan sikap ini menimbulkan pertanyaan, mengingat sebelumnya Santi mengaku mengalami penghinaan berat, termasuk anaknya disebut “anak haram” dan ibunya disamakan dengan binatang.
Pemred Baneratv.com Kecewa: “Saya Merasa Dimanfaatkan”
Menanggapi perubahan sikap tersebut, Pemimpin Redaksi Baneratv.com, Ronald Jantur, menyampaikan kekecewaannya:
“Saya sangat kecewa dan tidak habis pikir dengan sikap Santi Mawarni yang tidak konsisten. Saya merasa hampir kena jebakan atas permainannya. Saya ingat betul saat dia datang ketemu saya, dia menceritakan sambil menangis. Dan dia juga sudah bilang tidak akan mau berdamai.”
Ia menilai, alasan awal yang disampaikan Santi diduga hanya menjadi alat untuk mencapai tujuan lain:
“Saya berani bantu dia karena keluhannya. Ternyata keluhan itu hanya modus supaya dapat amplop. Saya sangat kecewa.”
Ronald juga membantah tudingan bahwa dirinya meminta uang:
“Yang paling buruk adalah dia cerita kiri kanan bahwa saya meminta uang kepadanya. Saya sudah dimanfaatkan, sikapnya sangat buruk.”

Penulis : Redakai Baneratv.com
Editor : Redakai Baneratv.com







