Sebut PMKRI Provokator, Warga Ndao: Bupati Ende Sebar Fitnah

- Redaksi

Selasa, 14 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ENDE, BANERATV.COM – Polemik rencana penggusuran pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang Pantai Ndao kian memanas dan tak kunjung menemukan titik terang. Ketegangan mencapai puncaknya saat warga Ndao bersama Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) menggelar aksi di halaman Kantor Bupati Ende, Rabu (8/4/2026).

Aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan warga terhadap sikap Pemerintah Kabupaten Ende yang dinilai tidak menghadirkan solusi konkret atas ancaman penggusuran yang menghantui mata pencaharian mereka. Massa mendesak untuk berdialog langsung dengan Bupati Ende, Yosep Benediktus Badeoda.

Namun, alih-alih membuka ruang dialog, pernyataan Bupati justru memantik kontroversi baru. Ia secara terbuka melabeli PMKRI sebagai “provokator” dan menolak kehadiran organisasi tersebut dalam pertemuan dengan warga.

“Saya mendapat WA dari Kapolres untuk menerima mereka, tapi saya tidak mau terima mereka. Provokator. Kalau rakyat Ndao yang datang, perwakilan saja. Kalau itu rakyat Ndao, silakan masuk. Tapi PMKRI tidak. Itu saya anggap provokator,” ujar Bupati.

Pernyataan ini sontak menuai kecaman. Warga menilai tudingan tersebut tidak berdasar dan cenderung mengaburkan substansi persoalan.

Leni Ariani, salah satu warga Ndao, dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Ia menegaskan bahwa kehadiran PMKRI bukan untuk memprovokasi, melainkan atas permintaan langsung masyarakat yang merasa tidak didengar oleh pemerintah.

“Pernyataan Bupati yang menyebut PMKRI provokator itu tidak benar. Kami sendiri yang meminta PMKRI untuk mendampingi dan mengadvokasi kami. Kami yang menjadi korban penggusuran,” tegas Leni.

Lebih jauh, warga menilai pernyataan Bupati tersebut sebagai bentuk fitnah yang tidak hanya mencederai perjuangan masyarakat kecil, tetapi juga merendahkan peran mahasiswa sebagai mitra kritis dalam demokrasi.

Alih-alih meredakan konflik, sikap Bupati justru dinilai memperkeruh suasana dan menunjukkan ketidakpekaan terhadap jeritan warga yang tengah menghadapi ancaman kehilangan sumber penghidupan.

Situasi ini memperlihatkan jurang komunikasi yang semakin lebar antara pemerintah daerah dan masyarakat. Warga pun mendesak Bupati untuk menghentikan narasi yang menyudutkan pihak tertentu, serta segera membuka ruang dialog yang adil, terbuka, dan solutif.

Penulis : Redaksi Baneratv.com

Editor : Redaksi Baneratv.com

Berita Terkait

PMBB Manggarai Barat Sampaikan Duka atas Meninggalnya Dua Wisatawan Austria di Cunca Wulang
Aldy Dalton Ndolu, SH Pastikan Laporan terhadap Emiliana Helni Tetap Berjalan, Polisi Libatkan Sejumlah Ahli
Pola Main Rentenir Berkedok “Admin”: Bunga Mencekik, Penagihan Brutal, Nasabah Dijerat Seumur Hidup
Masyarakat Kecil Dicekik Rentenir Berseragam, Propam dan Kapolres Mabar Ikut Disorot
Polisi Jadi Rentenir, Propam Dinilai Mandul: Kapolres Mabar Diduga Lindungi Anggota Bermasalah
Berusaha Melawan Kebijakan Negara? Emiliana Helni Dijemput Paksa, Status Kasar terhadap Pejabat Viral dan Tuai Kemarahan Publik
Dua Jam Sebelum Tewas, Bripka Alexandrea Riberu Diduga Diteror Santi Monika: “Cepat Transfer, Jangan Jadi Polisi Tipu-Tipu!”
Tuding Santi Monika “Rentenir”, Sius Ruem Malah Kabur dari Konfirmasi dan Blokir Nomor Wartawan
Berita ini 129 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 11:49

PMBB Manggarai Barat Sampaikan Duka atas Meninggalnya Dua Wisatawan Austria di Cunca Wulang

Minggu, 17 Mei 2026 - 02:39

Aldy Dalton Ndolu, SH Pastikan Laporan terhadap Emiliana Helni Tetap Berjalan, Polisi Libatkan Sejumlah Ahli

Selasa, 12 Mei 2026 - 03:41

Masyarakat Kecil Dicekik Rentenir Berseragam, Propam dan Kapolres Mabar Ikut Disorot

Senin, 11 Mei 2026 - 12:31

Polisi Jadi Rentenir, Propam Dinilai Mandul: Kapolres Mabar Diduga Lindungi Anggota Bermasalah

Sabtu, 9 Mei 2026 - 07:53

Berusaha Melawan Kebijakan Negara? Emiliana Helni Dijemput Paksa, Status Kasar terhadap Pejabat Viral dan Tuai Kemarahan Publik

Berita Terbaru