BANERATV.COM – Di setiap denting cambuk dan nyanyian Nenggo caci yang menggema di tanah Manggarai, selalu ada nama Nggalang Mila. Nama itu bukan sekadar julukan di arena, melainkan simbol keberanian, ketangkasan, dan seni yang menyatu dalam satu sosok legendaris bernama Hanes Panur.
Lahir dan besar di Kampung Bempo, Desa Watu Rambung, Kecamatan Lembor Selatan, sebuah wilayah yang sarat dengan tradisi dan kebanggaan akan seni caci. Sejak kecil, suara cambuk dan nyanyian perang sudah akrab di telinganya. Dari situlah api semangat caci mulai tumbuh dalam dirinya, sebuah seni bertarung yang bukan sekadar adu pukul, tetapi juga tarian kehormatan, keindahan, dan harga diri.
Asal-usul Nama “Nggalang Mila”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Julukan Nggalang Mila muncul dari pengamatannya terhadap seekor ular yang sering melintas di sekitar ladangnya. Ular itu bergerak dengan kelincahan luar biasa, meliuk cepat, sulit ditangkap, dan selalu tahu kapan harus menyerang atau menghindar. Dari situlah Hanes terinspirasi.
“Ia ingin menjadi secepat dan seluwes ular itu di arena,” kenang seorang sahabatnya. Maka sejak hari itu, Hanes tak lagi sekadar dikenal dengan nama aslinya. Ia adalah Nggalang Mila, si ular lincah, si gesit dari Bempo.
Tato 212 dan Jati Diri Seorang Petarung
Di dada Nggalang Mila terukir jelas tato “212” , angka yang menjadi ciri khas dan kebanggaan dirinya. Bagi sebagian orang, tato itu hanyalah hiasan. Namun bagi Hanes, itu adalah simbol keberanian, loyalitas, dan semangat juang tanpa rasa takut. Di masanya, tato seperti itu menjadi penanda gaya hidup dan keberanian lelaki sejati.
Tato itu kini menjadi cerita yang terus diingat oleh generasi muda simbol bahwa menjadi petarung bukan hanya soal otot dan cambuk, tetapi juga soal karakter dan jati diri.
Legenda dari Lembor Selatan
Di arena caci, Nggalang Mila bukan sekadar pemain. Ia adalah seniman perang yang mengubah setiap gerakan menjadi tarian, setiap pukulan menjadi irama, dan setiap sorakan penonton menjadi nyanyian semangat. Gerakannya yang cepat, tangkas, dan berirama membuat lawan-lawannya sering kali kesulitan menebak arah serangannya.
“Kalau Nggalang Mila sudah turun ke lapangan, penonton tidak akan beranjak,” kata seorang anak muda yang sering menontonya. “Dia bukan hanya bermain caci, dia menari.”
Sorak dan tepuk tangan penonton selalu menggema setiap kali ia beraksi. Dalam bahasa Manggarai disebut “Lomes”. suaranya lantang, nyanyiannya menggetarkan, dan kehadirannya selalu mencuri perhatian. Suaranya saat melantunkan “nenggo” yang keluar dari mulutnya begitu kuat hingga mampu menghipnotis siapa pun yang mendengarnya.
Menembus Arena Nusantara
Bakat dan kehebatan Nggalang Mila tak berhenti di kampung halamannya. Namanya menembus batas daerah, menembus panggung-panggung budaya di seluruh Nusantara. Ia kerap diundang tampil dalam berbagai festival dan acara budaya di Jakarta, Kalimantan, Bali, Makassar, dan sejumlah kota besar lainnya.
Di setiap tempat yang ia kunjungi, semangat caci yang ia bawa selalu menyalakan rasa kagum dan hormat terhadap budaya Manggarai. Ia bukan hanya mewakili dirinya sendiri, tetapi juga roh kebanggaan masyarakat Lembor Selatan.
Warisan yang Tak Pernah Padam
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, nama Nggalang Mila tetap hidup di hati masyarakat. Anak-anak muda masih menyebut namanya dengan bangga, para tetua adat masih menceritakan kelincahan dan keberaniannya di arena caci. Ia telah menjadi legenda hidup, sosok yang mengajarkan bahwa dalam setiap permainan caci, tersimpan nilai-nilai luhur tentang kehormatan, keindahan, dan persaudaraan.
Nggalang Mila bukan hanya seorang pemain caci. Ia adalah simbol semangat leluhur, penanda bahwa tradisi tak pernah lekang oleh waktu. Dan setiap kali suara cambuk kembali terdengar di tanah Lembor, seolah bayangan Nggalang Mila ikut menari di antara debu arena, menyapa generasi baru dengan pesan yang abadi:
“Jadilah seperti ular lincah, tangkas, cerdas, dan tak kenal takut.”







