LABUAN BAJO | BANERATV – Tokoh adat Tebedo, Aleks Hatta, memberikan tanggapan atas pemberitaan yang dimuat media SuaraNusantara.co berjudul “Konflik Tanah Tanjung Boleng: Tokoh Adat Tebedo Akui Ulayat Mbehal, Ahli Budaya Beber Kejanggalan Pengakuan Aleks Hata.”
Dalam wawancara khusus dengan BANERATV di kediamannya di Wae Mata, Rabu (10/6/2026), Aleks Hatta membantah sejumlah pernyataan yang dimuat dalam pemberitaan tersebut. Ia menyoroti berbagai keterangan yang disampaikan sejumlah narasumber terkait sejarah hubungan Kampung Mbehal dan Tebedo, status dirinya sebagai tokoh adat, hingga persoalan hak ulayat yang kini menjadi bagian dari sengketa di wilayah Merot, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat.
Menurut Aleks, sejumlah informasi yang berkembang tidak sejalan dengan pengetahuan sejarah yang ia peroleh dari garis keturunannya maupun pengalaman hidupnya selama puluhan tahun di lingkungan adat Tebedo dan Mbehal.
Klaim Keturunan Langsung Mbehal
Aleks Hatta menegaskan bahwa dirinya merupakan keturunan langsung Mbehal dan memahami sejarah awal terbentuknya Kampung Tebedo berdasarkan cerita turun-temurun yang diwariskan keluarganya.
Ia menyebut neneknya merupakan salah satu tokoh yang diutus oleh Gendang Mbehal untuk membuka perkampungan Tebedo pada masa lampau.
“Saya ini keturunan Mbehal asli. Nenek saya diutus oleh Gendang Mbehal untuk membuka perkampungan Tebedo, diperkirakan pada tahun 1800-an. Nenek saya yang diutus. Termasuk ada juga nenek mereka, tetapi yang menjadi prioritas adalah nenek saya,” kata Aleks Hatta.
Ia juga menolak pandangan yang menyebut leluhur pihak lain, termasuk keluarga Viktorinus Piston, sebagai pihak pertama yang membuka atau menempati Tebedo.
“Bukan neneknya Viktorinus Piston. Nenek saya. Itu sejarah lengkap yang saya ketahui. Sampai hari ini enam suku yang ada di Tebedo masih mengakui keberadaan saya dan mengetahui sejarah itu,” ujarnya.
Menurut Aleks, sejarah Mbehal dan Tebedo merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Namun, ia menilai terdapat sejumlah versi sejarah yang berkembang belakangan dan menurutnya tidak sesuai dengan fakta yang ia pahami berdasarkan silsilah keluarga serta tradisi lisan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Cerita Penugasan ke Mbehal Tahun 1962
Dalam keterangannya, Aleks juga mengungkapkan peristiwa yang menurutnya terjadi sekitar tahun 1962.
Ia mengatakan nenek dan ayah Viktorinus Piston bersama seorang tokoh bernama Yosef Serong pernah diutus ke Mbehal untuk menjaga pusat persembahan adat yang dikenal dengan istilah lempar.
“Tahun 1962, neneknya dan bapaknya Viktor Piston bersama Yosef Serong diutus ke Mbehal. Tujuannya untuk menjaga lempar, dalam arti pusat persembahan adat. Mereka diutus dari Tebedo. Viktor belum lahir waktu itu. Yang ada adalah bapaknya yang bernama Hen Hanu,” kata Aleks.
Berdasarkan pengetahuannya tersebut, Aleks menilai Viktorinus tidak mengalami secara langsung sejumlah peristiwa sejarah yang saat ini menjadi perdebatan.
“Dia tidak mengetahui apa-apa tentang Mbehal dan Tebedo. Saya dengar selama ini pernyataannya, tetapi saya pikir untuk apa saya tanggapi orang yang sama sekali tidak mengetahui sejarah itu,” ujarnya.
Soroti Klaim Kepemilikan Ulayat
Aleks juga menyoroti adanya pihak-pihak yang menurutnya mengaku sebagai bagian dari Mbehal dan mengklaim hak ulayat, namun tidak memiliki keterikatan langsung dengan kampung tersebut.
Menurutnya, keberadaan seseorang sebagai bagian dari komunitas adat tidak hanya ditentukan oleh pengakuan lisan, tetapi juga harus dibuktikan melalui keterhubungan nyata dengan kampung asalnya.
“Ada orang yang mengaku orang Mbehal tetapi hidup berpindah-pindah. Namanya orang Mbehal tetapi tidak pernah tinggal di Mbehal, tidak punya rumah di Mbehal, tidak punya pekarangan di Mbehal, lalu menyatakan diri sebagai pemilik ulayat. Menurut saya itu tidak benar,” kata Aleks.
Versi Aleks tentang Enam Suku di Tebedo
Dalam wawancara tersebut, Aleks juga memaparkan versinya mengenai komposisi awal suku-suku yang membentuk Kampung Tebedo.
Menurut dia, sejak awal terdapat enam suku utama yang menjadi bagian dari kampung tersebut, dan sebagian berasal langsung dari Mbehal.
“Di Tebedo ada enam suku. Tiga berasal dari Mbehal. Yang datang langsung dari Mbehal adalah Suku Pola dan Suku Cireng. Suku Pola adalah suku yang dituakan di Mbehal maupun di Tebedo. Itu suku saya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa setelah kedatangan kelompok awal tersebut, sejumlah suku lain kemudian bergabung dan menjadi bagian dari komunitas Tebedo.
“Setelah itu ada Suku Maras, Suku Tango, Suku Bung, dan suku Nawang,” katanya.
Karena itu, Aleks berpendapat tidak semua pihak yang saat ini berbicara mengenai sejarah Tebedo memahami secara utuh perjalanan kampung tersebut.
“Mereka yang sekarang berbicara banyak, menurut saya tidak mengetahui secara utuh sejarah kampung ini,” ujarnya.
Bantah Tudingan Tua Adat “Abal-Abal”
Selain menanggapi persoalan sejarah, Aleks juga membantah tudingan yang menyebut dirinya sebagai tua adat “abal-abal”.
Ia mengaku mengetahui tudingan tersebut setelah memperoleh informasi dari seorang wartawan yang menemuinya.
“Saya tanya kepada wartawan itu, siapa yang mengatakan Aleks Hatta tua adat abal-abal. Awalnya dia tidak mau menyebut nama. Setelah saya desak, dia menyebut nama Bone Heksin,” kata Aleks.
Aleks kemudian menjelaskan hubungan Bone Heksin dengan Kampung Tebedo.
Menurutnya, Bone memang lahir di Tebedo, tetapi sebagian besar masa hidupnya dijalani di luar kampung tersebut.
“Dia lahir di Tebedo, tetapi dibesarkan di Labuan Bajo. Setelah bapaknya meninggal, dia dipelihara keluarganya di sini. Mamanya kemudian menikah lagi dengan orang lain di Tebedo. Jadi keterlibatannya dalam urusan adat Tebedo sangat jauh,” ujarnya.
Ia juga mengaku heran atas penolakan terhadap statusnya sebagai tokoh adat karena menurutnya Bone Heksin pernah meminta rekomendasi darinya dalam urusan tertentu.
“Dia pernah meminta rekomendasi saya untuk membuka jalan menuju Wae Cipi. Bukan meminta kepada orang lain. Karena itu saya heran kalau sekarang dia tidak mengakui saya,” kata Aleks.
Duga Ada Pihak Lain di Balik Narasi yang Disampaikan Viktorinus
Dalam kesempatan yang sama, Aleks menyampaikan dugaan pribadinya bahwa sebagian informasi yang disampaikan Viktorinus kepada media kemungkinan berasal dari pihak lain.
Menurut Aleks, dugaan tersebut muncul karena ia menilai Viktorinus tidak mengalami secara langsung sejumlah peristiwa sejarah yang dipaparkan.
“Dalam prediksi saya, itu bukan pernyataan pribadinya Viktor. Karena dia sama sekali belum tahu sejarah ini,” katanya.
Aleks mengatakan dirinya mengenal keluarga Viktorinus sejak lama, bahkan jauh sebelum Viktorinus lahir.
“Bapaknya hampir selevel dengan saya. Ketika saya masih mengajar di Wangkung dan kemudian pindah ke Terang pada tahun 1982, Viktor belum lahir. Karena itu saya meragukan kalau seluruh uraian sejarah yang dimuat itu berasal dari dia sendiri,” ujarnya.
Meski demikian, ia tidak menyebut secara spesifik siapa pihak yang dimaksud.
“Boleh saja ada orang lain yang memanfaatkan nama Viktor,” katanya.
Untuk memperkuat pandangannya, Aleks mengingat sebuah peristiwa yang menurutnya pernah terjadi dalam suatu persidangan.
“Pernah ada orang yang menceritakan sejarah perjalanan suku saya. Ketika ditanya di pengadilan oleh pengacara saya dari mana informasi itu diperoleh, dia mengaku mendapatkannya dari orang lain,” kata Aleks.
Apresiasi Upaya Mediasi Pemerintah
Terlepas dari perbedaan pandangan yang berkembang, Aleks mengaku tetap menghormati langkah Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat yang berupaya memfasilitasi mediasi antara pihak-pihak yang berselisih.
Menurutnya, keterlibatan pemerintah menunjukkan adanya komitmen untuk mencari jalan keluar secara damai.
“Ini sudah yang kesekian kali dilakukan pemerintah. Saya bangga karena pemerintah masih memiliki inisiatif untuk memediasi persoalan ini,” ujarnya.
Namun, ia berharap mediasi berikutnya dapat menghadirkan tokoh-tokoh senior dari Mbehal yang selama ini belum terlibat secara langsung.
“Harapan saya, tokoh-tokoh dari Mbehal juga hadir. Selama ini yang hadir kebanyakan hanya anak-anak yang diutus. Tokoh-tokoh tua dari Mbehal justru tidak hadir,” katanya.
Menurut Aleks, kehadiran para tokoh senior penting agar informasi sejarah dan adat dapat disampaikan langsung oleh pihak-pihak yang dianggap mengetahui peristiwa masa lalu.
Minta Semua Pihak Dilibatkan
Aleks juga berharap seluruh pihak yang berada di lokasi sengketa dapat dilibatkan dalam proses mediasi.
Menurutnya, terdapat sejumlah perkembangan di lapangan yang perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman baru.
Ia bahkan mengaku pernah mengonfirmasi langsung persoalan tersebut kepada seorang tua golo setempat.
“Saya pernah bertanya kepada tua golo. Dia mengatakan bahwa orang-orang yang turun ke lokasi itu bukan tanggung jawabnya dan dia tidak mengetahui kehadiran mereka. Pernyataan itu masih ada dalam bentuk video,” kata Aleks.
Harap Bonavantura Abunawan Hadir dalam Mediasi Berikutnya
Pada akhir wawancara, Aleks secara khusus berharap Bonavantura Abunawan dapat hadir dalam proses mediasi berikutnya.
Menurutnya, selama ini Bonavantura belum pernah hadir secara langsung dalam forum mediasi yang difasilitasi pemerintah.
“Sebenarnya selama ini dia tidak pernah hadir dalam proses mediasi. Karena itu saya berharap kali ini dia hadir dan memberikan penjelasan secara langsung,” ujarnya.
Aleks menilai kehadiran seluruh pihak yang memiliki keterkaitan dengan sengketa tersebut akan membantu proses penyelesaian secara lebih terbuka, transparan, dan objektif.
“Saya berharap pemerintah mengundang semua pihak supaya persoalan ini bisa dibicarakan secara terbuka dan jelas,” katanya.
Pada Sabtu (20/6/2026), awak media ini menghubungi Bonavantura Abunawan untuk meminta tanggapan atas pernyataan yang disampaikan Aleks Hatta. Namun, ia memilih untuk tidak memberikan komentar lebih jauh.
“Mohon izin ite, saya lebih banyak diam sajalah. Saya tidak ikut komentar ataupun beri keterangan supaya tidak menjadi rame lagi,” ujar Bonavantura.
Beberapa saat setelah percakapan telepon berakhir, Bonavantura kembali menghubungi awak media dan menyampaikan pesan tambahan.
“Saya juga sudah telepon Pak Bone Heksin. Dia menyampaikan salam kepada ite, dan mohon maaf kita tidak mau terlalu banyak komentar saja dulu. Kita mau tahu dulu seperti apa pernyataannya Aleks Hatta karena kita juga belum tahu seperti apa pernyataannya,” tutupnya.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Viktorinus Piston tidak menemui jawaban namun ia hanya menyampaikan bahwa dirinya sedang Sibuk.
“Selamat sore, mohon maaf saya belum bisa kasi pernyataan. Saya masi banyak Sibuk.” Pungkas Viktorius Sembari menutup teleponya .

Penulis : Redaksi Baneratv.com
Editor : Redaksi Baneratv.com







