LABUAN BAJO, BANERATV.COM — Nama Emiliana Helni kembali menjadi sorotan publik setelah dikaitkan dengan sejumlah akun media sosial yang kerap memposting identitas nasabah dan praktik pinjaman uang. Dalam wawancara yang berlangsung pada Sabtu, 18 April 2026, Emiliana memberikan sejumlah klarifikasi tegas, sekaligus pernyataan kontroversial terkait aktivitasnya.
Wawancara dilakukan melalui Pesan WA, dengan sejumlah isu krusial disampaikan secara langsung oleh wartawan.
Wartawan: Apakah ibu Emiliana Helni mengenal akun Facebook bernama Solidaritas?
Emiliana Helni: “Saya tidak kenal.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jawaban singkat tersebut menjadi penegasan awal bahwa Emiliana membantah keterkaitannya dengan akun tersebut.
Wartawan: Mengapa hampir semua postingan dari akun facebook Solidaritas dan akun facebook Dana Kaget Ol selalu menandai akun Emiliana Helni, terutama dalam unggahan wajah dan identitas nasabah?
Emiliana Helni:
“Adik, kamu pergi cari sendiri itu akun dana kaget Ol. Adik tanya kenapa tag ibu emi. Karena bukan saya yang tag mereka. Adik cari itu dana kaget sampai dapat dimana mereka. Adik tanya Santi Monika, Rosi Janggur, terus Emi Abul. Kamu tanya ke mereka siapa itu akun dana kaget. Saya tidak pakai akun lain selain akun Facebook Emiliana Elni. Dan hanya akun itu yang saya pakai untuk caci maki orang. Karena saya selalu berpegang pada kesepakatan walaupun itu saya tau itu tidak boleh dan salah.”
Dalam pernyataan ini, Emiliana Helni tidak hanya menyangkal keterlibatan dengan akun lain, tetapi juga secara terbuka mengakui bahwa dirinya menggunakan akun pribadinya untuk melakukan unggahan bernada keras.
Ia juga meminta agar wartawan tidak terus menyorot dirinya.
“Adik jangan soroti saya. Saya orang baik, saya bukan penjahat.” ujarnya.
Emiliana Helni kemudian menjelaskan praktik pinjamannya, yang menurutnya kerap disalahpahami.
“Saya kasi uang itu secara gratis. Ketika mereka tidak bisa bayar, mereka bilang ini uang bunga. Itu nanti ditelusuri. Dihitung berapa uang saya yang masuk berapa yang keluar.”
Ia bahkan mengklaim pernah menang dalam proses hukum:
“Itu makanya saya menang di perkara. Mereka bilang, mereka koa-koar dia ini rentenir. Sampai di polisi saya menang. Karena saat polisi hitung jumlah transferanya saya itu berapa dan masuknya berapa.”
Sebagai contoh, ia menjelaskan:
“Misalnya transfer dari saya 20 juta, masuk ke saya 15 juta. Polisi pasti cek kenapa transfernya hanya 15 juta. Berarti sisanya masih 5 juta. Malas lagi mau tagih adik, saya biarkan saja sudah.”
Wartawan: Ada dugaan pola pinjaman dimana bunga tidak ditulis terpisah, melainkan digabung dalam satu kwitansi. Misalnya pinjaman 10 juta dengan bunga 50 persen, totalnya menjadi 15 juta dalam 10 hari. Saat nasabah hanya mengembalikan pokok, mereka akan dilaporkan dengan dugaan penggelapan. Apakah seperti itu?
Pada pertanyaan ini, Emiliana Helni tidak memberikan jawaban.
Wartawan: Apakah ibu mengenal admin atau pemilik akun Riko Suardi?
Emiliana Helni: “Saya tidak kenal. Itu akun palsu dan provokator. Sembarang saja mereka punya postingan itu.”
Wartawan: Apakah selama ini ibu pernah menggunakan jasa debt collector atau polisi untuk menagih utang?
Emiliana Helni: “Tidak pernah pakai jasa debt collector apalagi kalau bilang pakai jasa polisi.”
Sorotan kemudian mengarah pada status Emiliana Helni sebagai seorang guru dan ASN, serta aktivitasnya di media sosial.

Wartawan: Sebagai ASN dan guru, apakah ibu pernah mendapat teguran dari atasan, seperti Bupati, Kadis PPO, atau pihak yayasan dan sekolah, terkait postingan yang menghina, Mencaci maki secara brutal atau membuka identitas orang di media sosial?
Emiliana Helni:
“Adik tanya saja di pak Bupati. Kau kesana tanya dia. Sampaikan ke Bupati Heri Nabit ini jawaban dari ibu emi.”
Ia bahkan menggambarkan kemungkinan respons pejabat jika dilaporkan:
“Kalau ada yang lapor, pasti Bupati akan jawab: emangnya dia maki kau kah?”
Emiliana menegaskan bahwa menurutnya tidak ada pihak yang bisa menindaknya secara administratif:
“Tidak ada yang bisa tindak tegas saya kalau saya maki orang di Facebook. Bukan bupati, bukan presiden, bukan kadis, bukan juga kepala sekolah. Tapi pihak berwajib.”
Ia juga menyebut kontribusinya sebagai alasan kuat:
“Romo selaku ketua yayasan Sukma akan jawab, iya banyak ibu emi sumbang untuk yayasan. Apalagi kepala sekolah, saya banyak sumbang untuk sekolah pakai uang pribadi.”
Di akhir wawancara, Helmina menutup pernyataannya secara sepihak, menandai berakhirnya sesi.

Penulis : Redaksi Baneratv.com
Editor : Redaksi Baneratv.com







